Temu Pelaku Wisata dalam Rangka Rebranding Bantul The Origin Of Mataram di Lereng Sentono, Pleret

13 Februari 2025
Sudebyo
Dibaca 108 Kali
Temu Pelaku Wisata dalam Rangka Rebranding Bantul The Origin Of Mataram di Lereng Sentono, Pleret

Pleret, 12 Februari 2025 - Dalam upaya memperkuat citra Bantul sebagai "The Origin Of Mataram", para pelaku wisata yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) menghadiri acara Temu Pelaku Wisata di Destinasi Lereng Sentono, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul. Acara ini turut dihadiri oleh Lurah Pleret, Bapak Taufiq Kamal, S.Kom, M.Cs, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, serta GKR Bendara (GRAj Nurastuti Wijareni) yang menjadi salah satu pembicara utama.

Dalam sambutannya, Lurah Pleret Bapak Taufiq Kamal, S.Kom, M.Cs menyampaikan bahwa acara ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat di Bantul. Beliau menekankan pentingnya kerja sama antara desa wisata dalam mengembangkan destinasi unggulan. "Kami berharap setiap desa wisata di Bantul bisa saling mendukung, bukan bersaing. Dengan sinergi yang baik, kita bisa menjadikan Bantul sebagai destinasi utama yang dikenal luas," ujar beliau.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul juga menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif ini dan menekankan bahwa pemerintah daerah siap mendukung penuh upaya rebranding Bantul sebagai "The Origin Of Mataram". Beliau menekankan pentingnya pelatihan bagi pelaku wisata, peningkatan infrastruktur, serta strategi pemasaran yang lebih efektif agar desa wisata di Bantul semakin berkembang.

Dalam pemaparannya, GKR Bendara menekankan pentingnya sinergi antar desa wisata dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis masyarakat. Beliau menyoroti beberapa poin utama, di antaranya:

  1. Pembuatan Paket Wisata – Desa wisata di Bantul harus mampu menciptakan paket wisata yang unik dan menarik dengan mengintegrasikan berbagai atraksi budaya, alam, dan kuliner khas daerah setempat. Paket ini harus dibuat sedemikian rupa agar memberikan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan.

  2. Trilogi Mangku Bumi – Konsep ini mengacu pada filosofi menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Keberlanjutan lingkungan, pelestarian warisan budaya, dan kesejahteraan masyarakat lokal harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan pariwisata.

  3. Memayu Hayuning Bawono – Prinsip ini menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan sekitar, memastikan bahwa setiap aktivitas wisata tidak merusak ekosistem yang ada, serta memperindah kawasan wisata agar tetap asri dan nyaman bagi pengunjung.

  4. Kepedulian terhadap Adat dan Tradisi – Setiap desa wisata diharapkan untuk tetap menjaga dan melestarikan adat serta tradisi lokal. Hal ini tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata tetapi juga memperkuat identitas budaya yang menjadi ciri khas masing-masing desa.

  5. Promosi Bersama Antar Desa Wisata – Daripada saling bersaing, desa wisata harus bekerja sama dalam promosi dan pemasaran. Dengan cara ini, wisatawan akan mendapatkan pilihan pengalaman yang lebih beragam, dan masing-masing desa bisa mendapatkan manfaat dari kunjungan wisata yang lebih luas.

  6. Storytelling – Narasi yang menarik dan autentik sangat penting dalam memperkenalkan destinasi wisata. Setiap desa diharapkan memiliki cerita unik yang bisa disampaikan kepada wisatawan untuk memberikan pengalaman yang lebih mendalam dan emosional.

  7. Prioritas Wisata – Pengelolaan pariwisata harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan keterlibatan masyarakat lokal. Infrastruktur pendukung, peningkatan kapasitas SDM pariwisata, serta penerapan teknologi dalam promosi harus menjadi fokus utama agar industri pariwisata semakin maju.

GKR Bendara juga berharap bahwa desa wisata di Bantul tidak bersaing satu sama lain, melainkan bekerja sama untuk meningkatkan daya tarik wisata daerah secara kolektif. "Pariwisata berbasis masyarakat ini akan semakin maju jika desa-desa wisata saling berkolaborasi, bukan berkompetisi," ungkapnya.

Acara ini diharapkan menjadi langkah awal yang baik dalam mengembangkan sektor pariwisata Bantul agar lebih dikenal, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional. Dengan adanya kerja sama antara pelaku wisata, pemerintah desa, dan komunitas lokal, Bantul siap menjadi destinasi unggulan yang mengedepankan kearifan lokal serta nilai-nilai budaya khas Mataram.